Clew

BerandaAlatPemeriksa keterbacaan

Pemeriksa keterbacaan untuk teks bahasa Indonesia

Tempel teks Anda: alat ini menghitung rata-rata panjang kalimat dan menentukan kategori kemudahan membaca, memperkirakan waktu baca, serta menyoroti kalimat dan kata yang paling panjang. Bahasa Indonesia belum punya rumus keterbacaan yang tervalidasi luas, jadi kami memakai panjang kalimat dan menjelaskan caranya. Teks Anda tidak keluar dari browser.

● Gratis, tanpa daftarDiperbarui:

Tempel artikel, email, atau teks antarmuka. Setiap baris dihitung sebagai kalimat tersendiri, begitu pula judul dan butir daftar.
Kalimat dianggap panjang jika lebih dari

—

 

Rata-rata panjang kalimat— 
Tingkat pendidikan— 
Waktu baca— 
Dibacakan, dengan jeda— 
Skala keterbacaantidak dipakai untuk bahasa Indonesia
Skala keterbacaan
Kalimat— 
Kata— 
Karakter— 
Suku kata— 
Panjang kalimat— 
Panjang kata— 
Kata panjang— 

Teks dengan sorotan

kalimat terpanjangkalimat panjangkata 5+ suku kata

Semua dihitung di browser Anda — data yang Anda masukkan tidak dikirim ke mana pun.

Cara memakai

  1. Tempel teksArtikel, newsletter, deskripsi produk atau teks antarmuka. Untuk hasil yang stabil dibutuhkan sekitar 100 kata; dengan dua kalimat saja hasilnya mudah berubah.
  2. Baca hasilnyaAngka utama adalah rata-rata kata per kalimat: makin kecil, makin mudah dibaca. Di sebelahnya ada kategori, perkiraan tingkat pendidikan, waktu baca dan jumlah utama.
  3. Temukan bagian yang beratKalimat terpanjang disorot paling tebal, dan kata dengan lima suku kata atau lebih diberi garis bawah. Batas kalimat panjang bisa Anda ubah.
  4. Sederhanakan dan periksa lagiPecah kalimat panjang dan ganti kata berimbuhan panjang dengan yang lebih ringkas — hasil diperbarui seketika saat Anda menyunting.

Mengapa alat ini memakai panjang kalimat, bukan rumus Flesch

Rumus keterbacaan populer seperti Flesch Reading Ease (1948) dikalibrasi untuk bahasa Inggris: menghitung panjang kalimat dan jumlah suku kata per kata. Rumus itu sudah diadaptasi untuk beberapa bahasa, misalnya Spanyol dan Portugis. Untuk bahasa Indonesia belum ada rumus yang tervalidasi luas. Ada beberapa penelitian yang mencoba menerapkan atau menyesuaikan Flesch dan grafik Fry, tetapi belum ada satu standar yang umum dipakai.

Masalah utamanya ada pada suku kata. Kata dasar bahasa Indonesia rata-rata dua suku kata, lalu imbuhan menambah panjangnya: laku → memberlakukan, baca → keterbacaannya. Kata panjang karena imbuhan belum tentu sulit dipahami, sehingga koefisien bahasa Inggris akan menilai teks Indonesia terlalu sulit. Karena itu alat ini tidak menampilkan skor 0–100 dan memakai ukuran yang lebih jujur: rata-rata panjang kalimat.

Rata-rata panjang kalimat (ASL) = jumlah kata / jumlah kalimat Kategori (tabel gaya Flesch, The Art of Readable Writing, 1949): ASL ≤ 8 sangat mudah ASL ≤ 11 mudah ASL ≤ 14 cukup mudah ASL ≤ 17 standar ASL ≤ 21 cukup sulit ASL ≤ 25 sulit ASL > 25 sangat sulit

Tabel ini disusun Flesch untuk bahasa Inggris, jadi batasnya hanya patokan untuk bahasa Indonesia. Tingkat pendidikan yang ditampilkan juga perkiraan kasar dari kategori tersebut.

Contoh perhitungan

Ambil tiga kalimat: “Onboarding membantu pengguna baru cepat memahami kegunaan produk. Tooltip yang baik muncul pada saat yang tepat dan membahas satu tindakan saja. Jika orang tidak menemukan manfaat dalam beberapa menit pertama, mereka bisa menutup tab dan tidak kembali.” Alat menghitung 37 kata dalam 3 kalimat.

ASL = 37 / 3 = 12,3 kata per kalimat → cukup mudah

Suku kata tetap dihitung untuk menandai kata yang panjang: setiap vokal adalah inti suku kata, kecuali diftong ai, au, oi di akhir kata (pan-tai, pu-lau). Aturan ini tepat untuk sebagian besar kata dan bisa meleset pada kata serapan.

Cara membaca hasil dan keterbatasannya

Panjang kalimat adalah salah satu prediktor keterbacaan yang paling konsisten di berbagai bahasa. Tetap saja, ini ukuran yang kasar:

  • Tidak memahami makna. Kalimat pendek yang penuh istilah asing tetap dinilai mudah.
  • Tidak mengukur kosakata. “Implementasi” dan “optimalisasi” membuat teks terasa berat, meski kalimatnya pendek. Perhatikan kata yang disorot sebagai kata panjang.
  • Tidak stabil pada teks pendek. Pada dua atau tiga kalimat, satu kalimat panjang mengubah rata-rata secara drastis. Untuk teks antarmuka, pemeriksa teks tooltip lebih cocok.
  • Bergantung pada pemisahan kalimat. Daftar, judul dan singkatan bertitik (“dll.”, “dsb.”, “No.”) bisa mengacaukan hitungan. Alat ini menganggap setiap baris sebagai kalimat tersendiri.
  • Tingkat pendidikan hanya perkiraan. Tabel Flesch dibuat untuk pembaca berbahasa Inggris di Amerika Serikat.

Gunakan hasilnya untuk membandingkan versi dari teks yang sama dan untuk menemukan bagian yang berat, bukan sebagai nilai mutlak.

Waktu baca: dari mana angka 180 kata per menit

Studi multibahasa IReST (International Reading Speed Texts) mengukur kecepatan membaca dalam hati orang dewasa di 17 bahasa, tetapi bahasa Indonesia tidak termasuk. Karena itu alat ini memakai perkiraan 180 kata per menit: kata dalam bahasa Indonesia relatif panjang karena imbuhan, sehingga kecepatannya diperkirakan mendekati bahasa dengan kata panjang dalam IReST, seperti Jerman (179) atau Turki (166 kata per menit).

Waktu baca = kata / 180 × 60 detik Waktu bicara ≈ kata / 140 × 60 detik

Kecepatan sangat bervariasi antarorang dan antarteks: topik yang akrab dibaca lebih cepat, instruksi penuh angka dan istilah lebih lambat, dan layar antarmuka lebih sering dipindai daripada dibaca. Waktu bicara adalah perkiraan untuk tempo presentasi yang tenang.

Untuk teks antarmuka, waktu sangat penting: tooltip atau langkah tur dibaca sekilas, dan apa pun yang tidak selesai dalam beberapa detik akan dilewati.

Cara membuat teks lebih mudah dibaca

  • Pecah kalimat panjang. Satu gagasan per kalimat. Kalimat lebih dari 20 kata hampir selalu bisa dibagi dua tanpa kehilangan makna.
  • Pakai kata kerja, bukan kata benda. “Melakukan pengecekan” → “memeriksa”; “melakukan pembayaran” → “membayar”. Teks jadi lebih pendek dan hidup.
  • Buang frasa birokratis. “Dalam rangka”, “sehubungan dengan hal tersebut”, “adapun” memperpanjang kalimat tanpa menambah isi.
  • Pilih padanan yang pendek. “Mengimplementasikan” → “menerapkan”, “optimalisasi” → “perbaikan”, “pada saat ini” → “sekarang”.
  • Tulis angka dengan digit. “3 langkah” lebih cepat dipindai daripada “tiga langkah”.
  • Periksa ulang. Rata-rata panjang kalimat seharusnya turun, tetapi tujuannya teks yang jelas, bukan angka terkecil.

Jika Anda menulis teks onboarding, mulailah dari checklist onboarding pengguna dan contoh onboarding SaaS, yang membahas cara menulis tooltip dan langkah tur.

Sumber

  1. Flesch R. A New Readability Yardstick. Journal of Applied Psychology, 32(3), 1948.
  2. Flesch R. The Art of Readable Writing. Harper, 1949 — tabel gaya berdasarkan panjang kalimat dan tingkat pendidikan.
  3. Trauzettel-Klosinski S., Dietz K., IReST Study Group. Standardized Assessment of Reading Performance: The New International Reading Speed Texts IReST. Investigative Ophthalmology & Visual Science, 53(9), 2012 — kecepatan baca di 17 bahasa (tanpa bahasa Indonesia).
  4. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) — kbbi.kemdikbud.go.id.

Pertanyaan umum

Apakah ada rumus keterbacaan untuk bahasa Indonesia?

Belum ada rumus yang tervalidasi luas dan dipakai sebagai standar. Beberapa penelitian mencoba menyesuaikan Flesch atau grafik Fry, tetapi koefisien bahasa Inggris cenderung menilai teks Indonesia terlalu sulit karena kata berimbuhan panjang. Karena itu alat ini memakai rata-rata panjang kalimat dengan tabel gaya dari Flesch.

Berapa panjang kalimat yang ideal?

Untuk teks bagi pembaca umum — artikel, newsletter, halaman produk — usahakan rata-rata 15–17 kata per kalimat atau kurang. Teks antarmuka dan instruksi sebaiknya lebih pendek lagi. Teks akademis dan hukum sering di atas 25 kata, dan itu wajar untuk pembacanya.

Bagaimana cara menghitung waktu baca?

Bagi jumlah kata dengan kecepatan baca lalu kalikan 60 untuk mendapatkan detik. Alat ini memakai perkiraan 180 kata per menit, karena bahasa Indonesia tidak diukur dalam studi IReST. Teks 1.000 kata dibaca sekitar 5,5 menit.

Mengapa tidak ada skor 0–100?

Skor seperti Flesch Reading Ease butuh koefisien yang dikalibrasi pada teks dan pembaca bahasa tersebut. Tanpa kalibrasi itu, angka 0–100 akan terlihat presisi padahal tidak berarti. Rata-rata panjang kalimat lebih sederhana, tetapi jujur tentang apa yang diukurnya.

Bagaimana suku kata dihitung?

Setiap vokal (a, i, u, e, o) adalah inti satu suku kata, kecuali diftong ai, au dan oi di akhir kata, seperti pan-tai dan pu-lau. Di tengah kata, pasangan vokal biasanya dihitung dua suku kata (ma-in). Aturan ini tepat untuk sebagian besar kata dan bisa meleset pada kata serapan.

Apakah teks saya dikirim ke server?

Tidak. Analisis berjalan dengan JavaScript di browser Anda; teks tidak dikirim atau disimpan. Yang tersimpan di URL halaman hanya batas kalimat panjang yang Anda pilih.

Apa itu kata panjang di alat ini?

Kata dengan lima suku kata atau lebih, misalnya “fungsionalitas” atau “pemberitahuan”. Batasnya lebih tinggi daripada untuk bahasa Inggris karena imbuhan membuat kata Indonesia wajar lebih panjang. Kata yang disorot patut diperiksa: apakah ada padanan yang lebih pendek?

Lainnya di UX writing

Tur, tooltip, dan checklist yang dampaknya terlihat di angka.

Coba Clew gratisCara kerjanyaPaket gratis selamanya · tanpa kartu kredit

Product tour, popup, dan onboarding di era AI

7 pola lengkap dengan jumlah langkah, aturan teks, dan metrik, apa yang diubah AI, serta checklist sebelum terbit. PDF, 2 halaman. Isi panduan →

Panduannya dalam bahasa Inggris.